Minggu, 31 Oktober 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010




Minggu, 03 Oktober 2010



PENJAGA
Kamu telah diberi pelindung
Yang mampu diinjak-injak harga dirinya
Tapi tetap ditempatnya…tak beranjak pergi
Tetap setia melayani
Kamu telah diberi penjaga
Yang mampu diam dalam teraniaya
Tapi tetap tenang sabar menungguimu
Walaupun angin meniup…
Dan debu-debu memburamkan pandangan mata
Dan debu-debu lainnya berpindah terus menutupi kilau
Yang mampu menggali mata air…penyejuk kering
Yang mampu meneteskan hujan perih…penjernih kaca-kaca berdebu
Yang mampu meluruhkan debu-debu tertiup angin
Kamu telah diberi seorang teman
Yang mampu mengerti jiwamu
Dan selalu datang dengan maafnya
Penjaga hatimu…tak butakan nurani




Selasa, 18 Mei 2010


YANG DITUJU


Sesampainya kaki ini dan mata ini melihat sesuatu yang aku inginkan
Tapi tidak sama seperti hayalan…tidak seindah dalam angan dan perkiraan
Timbul kata ‘Seandainya’…kata baru yang mengiringi perasaan ‘Kecewa’
Seandainya aku tidak terlalu memaksakan…
Seandainya aku tidak terlalu keras sesuai dengan rencana…
Seandainya ada kata lain ‘Fleksibel’ dan ‘Kebijaksanaan’ dan’Pertimbangan lain’…
Seandainya aku juga melihat jalan yang lain…
Karena apa yang aku perkirakan itu sudah setahun yang lalu
Karena apa yang kurencanakan sudah dua tahun yang lalu
Tak ada yang abadi…bukan kah itu yang sebenarnya Tuhanku ?
Bukankah bumi ini masih berputar tidak berhenti

BUKAN YANG DITUJU

Seumpamanya aku mengikuti suatu rencanaku sendiri
Seumpamanya Tuhan juga membuat rencana untuk diriku juga
Aku simpan rencanaku pada Tuhan…dan Tuhan juga begitu…
Dipersimpangan jalanku dan jalan Tuhan…
Tentunya kakiku milik Tuhan…lebih memilih berjalan dijalan Tuhan
Ketika dipersimpangan jalan itu…terasa sangat berat untuk memilih
Dan aku bertanya dalam hati…mengapa ada persimpangan jalan ?
Mengapa ada pilihan ?
Mengapa bukan hanya satu jalan untuk rencanaku saja ?
Atau…mengapa bukan hanya satu jalan saja untuk jalan Tuhan yang terbaik untuku ?
Hingga aku hanya terdiam bagai orang lumpuh menanti tuntunan Tuhan ?
Hingga otakku mengecil tidak berfikir menanti keputusan Tuhan ?
Hingga aku tahu mengapa ada persimpangan jalan
Bukankah ini memang yang terbaik untukku terus berfikir dan bergerak
Hingga aku menjadi manusia normal yang berarti bukan untuk diriku saja
Tapi aku berarti untuk orang-orang disekitarku…
Bukan satu jalan…jalanku saja

Jumat, 26 Februari 2010


SIAPA YANG TIADA MENCINTAINYA
Perjalanan itu sulit ku ceritakan
Kesalahan apa yang pernah kulakukan dari seorang perempuan yang baru keluar dari rumah emasnya
Tak kukenal apa artinya dendam
Ayahkupun bukan pengusaha kaya raya dan bukan pula bangsawan
Baru kulihat matahari tanpa terhalangi jendela berkaca
Aku tersenyum karena pagi itu pertama kali kulihat bunga bermekaran ditanganku
Aku bercerita tentang ayahku yang baik hati dan wajahnya tampan
Mereka menertawaiku…ayah yang kubanggakan dianggap tokoh dalam sandiwara bersambung
Dengan bangganya aku mengatakan tebal alis mataku seperti milik ayahku
Wajahku yang bulat segar seperti buah apel ranum itupun seperti milik ayahku
Aku anggap semua laki-laki seperti ayahku…lembut kata-katanya…lembut tatapan matanya
Memanjakan ibuku…menyayangi keluarganya
Aku anggap semua laki-laki seperti ayahku…
Ayahkupun tak pernah bercerita tentang sisi buruk dunia…
Dianggapnya dunia adalah persinggahan…tempat beristirahat dengan ibadah
Aku tidak sepenuhnya seperti ayahku walau darahnya sepenuhnya mengalir di darahku…
Pundakku kecil dan langkahku tak sepanjang ayahku
Ketika ujian kehidupan menerpaku…aku menangis…inilah dunia yang baru kukenal
Tak semua laki-laki sebaik ayahku…laki-laki itu melukai jiwa ragaku
Inilah ujian yang akan menguatkan pundak dan langkah kakiku yang kecil
Mungkin aku akan sekuat ayahku…sendiri menaklukkan dunia
Laki-laki itu…
Dibuatnya aku melupakan jasa ayahku…bahwa perempuan harus patuh dengan suaminya
Dibuatnya aku melupakan kelembutan hati ibuku…bahwa aku ini sudah milik suami
Dibawa aku mengembara kekegelapan dunia yang tak pernah kulihat
Aku tak punya pendapat…pendapatku dianggap sebuah perlawanan
Tak kusalahkan siapapun hingga harga diriku meledak bak gunung berapi
Lahar panasnya menyapu bersih…tak perduli…
tak mengenal orang yang pernah menjahatiku atau yang baik padaku…tersapu bersih
Hingga kesendirianku…kutemukan diriku sendiri
Dunia ini tetap kupandang indah…seperti ayahku ceritakan…
Dunia ini hanya untuk singgah dan beristirahat dengan ibadahnya


SEANDAINYA CINTAMU SEPERTI CINTAKU

Seandainya cintamu seperti cintaku…
Yang kamu mengerti aku tersenyum…dan sudahlah
Yang kamu tahu aku baik-baik saja…dan sudahlah
Aku memang sehat dan baik saja
Panah-panah kecil itu agak menggigit di hatiku…geli
Orang bilang geli adalah nyeri yang dangkal…terasa gatal-gatal
Lucukah ? kamu menganggapku menggelikan ?
Seperti patung hatiku kamu anggap telah hilang puluhan tahun lalu
Walau kini aku tak sanggup menangis bukan berarti aku tidak punya sedih
Walau aku masih bisa bercanda bukan berarti aku tidak punya duka
Aku manusia normal yang punya hati
Yang terkadang hatiku pilu…sendiri
Hatiku mampu mengembara ke alam yang tanpa batas penglihatan mata
Kadang hatiku menembus alam hati dan menemui hatimu yang penuh kebohongan
Dan hatiku berbicara dengan hatimu…
Seandainya cintamu seperti cintaku


Sabtu, 20 Februari 2010


KAMU, SEMESTAKU


Itu menyakitkan…kamu yang pertama
Aku tak ingin mengusikmu lagi
Dan sepi-sepi ini membuatku lebih tenang
Air mataku ini cukup memuaskan emosiku yang lebih mengerti arti rindu
Diam-diam sajalah disana…aku tak akan mengganggumu
Aku hanya ingin mengakui bahwa cinta menyapaku semalam dengan angin rindunya
Sedang Tuhan mewujudkan sepinya dengan menciptakan manusia…
Agar dapat mewujudkan Kehendak-NYA
Seperti juga aku mewujudkan sepiku dalam hati…
Agar dapat mewujudkan cinta
Sedang Tuhan hadir dalam hati manusia…merenung dalam sepi…sendiri
Kalau rindu ini sebuah dinding…mungkin sudah retak-retak diterjang badai…digoncang gempa
Namun keyakinan cintaku…tak berbentuk bagai warna ini terwujud karena ada cahaya terang
Dan cinta ini tulus suci
Jangan tanyakan diriku lagi…
Tuhan menyimpan cintaku dalam hati…seutuh Tuhan menciptakannya pertama kali
Tuhan memelukku bila kuterisak rindu…cahaya-NYA memenuhi retak-retak dinding rinduku

Itu menyakitkan...kamu yang terakhir

Kamis, 18 Februari 2010


RITUAL
Kalau kamu menikah dengan orang bodoh akan terimbas bodoh…
karena pasanganmu adalah belahan jiwamu
Kalau kamu menikah dengan orang gila akan ikut menjadi gila…
Karena pasanganmu bagai cermin dirimu
Begitu juga aku yang pernah menikah dengan orang gila dan bodoh
Begitu teganya ayahku melepasku pada saat itu…
Karena aku dianggapnya dewasa padahal dunia ini terlalu besar untukku
Begitu teganya Tuhan membiarkanku…
Karena aku telah diberi-NYA segalanya dan aku bebas memilih
Untunglah Tuhan menyanyangiku dan memisahkanku dengan orang gila dan bodoh itu
Sebelum aku menjadi gila dan bodoh yang kronis dan menurun
Dia menjebakku dalam lingkaran setan keluarganya yang penuh teriakan-teriakan hinaan
Dia mengungkungku…menghinakanku…merendahkanku sebagai seorang perempuan
Dia bukan saja menyodorkan kepalsuan cinta dan kepura-puraan
Dia bukan saja menyakiti hatiku…dia menyakiti ragaku dengan tinjunya
Ini pelajaran mahal yang diberikan Tuhan padaku…
agar aku mengenal dunia dan orang-orang yang menghuninya
agar aku mengenal makhluk lain selain manusia yaitu setan yang berwujud manusia
Akhirnya kusadari…dunia ini tak sepenuhnya seperti yang ada didalam otakku

Rabu, 17 Februari 2010


BERLAYAR
Bila yang tiada kekal di dunia ini akan musnah…tapi aku tidak menyesal
Setidaknya aku pernah mengungkapkan cintaku pada dunia
Aku pernah menangisi cintaku…Aku pernah mengekspresikan cintaku…
Aku pernah melingkupi seluruh hidupku…memenuhinya dengan cinta…
Aku tidak menyesal
Bukan dosa yang kutakuti…tapi aku takut tidak berbuat apapun untuk cinta
Bila Tuhan melenyapkan dunia ini…tak pernah ku menyesal…
Cinta ciptaan Tuhan yang paling fantastik
Cinta pernah membuatku sepi dikeriuhan…
Cinta pernah membuatku rindu tak bertepi…
Cinta membuatku berpuisi…
Cinta membuat hatiku bergejolak…
Cinta mencabik isi hatiku…
Tapi cinta tak pernah membuatku membenci, iri, dendam, dan menghilangkan seseorang
Cinta mengenalkanku pada kasih sayang…walau tak berbalas…
Cinta mengajariku untuk ikhlas dan sabar…walau tertindas
Cinta membuatku tersenyum…walau hatiku merintih…dan mengarungi samudra harapan…
Cinta membuatku berlayar di alam yang sunyi seyap, luas, indah, tak terkekang
Sebelum lahir di dunia ini dan sampai aku hilang dari dunia ini, cintalah penyebabnya
Bila semuanya hilang lenyap…aku tidak menyesal…karena aku telah maksimal menikmati cinta
Bila Tuhan menghapus segalanya…aku akan hilang bersama cinta

TIGA LANGKAH


Betul pendapat banyak orang…kalau kamu meminum anggur
Kalau anggur yang kamu teguk dari anggur pilihan…matang didahannya…
Tumbuh dilahan pegunungan yang sejuk…tanahnya hitam pekat…hujannya setiap sore
Sangat enak dirasa…manis…aroma kayu cendana sebagai pemeras anggur kemerahan
Kamu akan ketagihan dan menginginkannya kembali…minuman anggur tak beragi…segar
Karena paginya panen anggur…siangnya diperas dengan kayu cendana…
Malamnya pesta panen anggur digelar…minuman anggur segar…yang baru dipanen tadi pagi
Minuman anggur segar tak beragi…tak juga memabukkan…tapi terus membuat haus sekali teguk
Seperti itu keinginanku seperti meneguk anggur segar aroma kayu cendana didaerah pegunungan
Seperti itu kalau kamu meminum air pengetahuan…haus dan ketagihan
Seperti itu rasanya meneguk air ilmu kehidupan…seakan meneguk air keabadian
Semakin diteguk semakin menginginkannya…semakin dicari setinggi apapun letaknya
Bukan yang pertama…tidak yang kedua…tak ada ketiga…
Seutuhnya…seluruhnya…membuatku semakin kecil terkungkung oleh atmosfer bumi
Seperti itu rasanya…ilmu-Nya




YANG KEDUA



Saat aku jatuh cinta kembali karena jiwaku yang masih haus…tak mengerti…
Nuansa ilmu-NYA yang berlapis-lapis
Aku tidak ingin membagi…aku tidak ingin memilih…bukan karena ini permainan…
Tapi inilah totalitasku…jiwaku yang masih kosong sekaligus berlubang-lubang
Tapi dinding-dinding jarak dan waktu sedikit menjadi ranjau perjalananku
Percayalah ramalan manusia tak ada yang tepat…apabila tuhan telah membuka pintu…
Malaikat pun merobohkan dinding jarak dan waktu…
Tangan manusia tak sanggup lagi menghalanginya
Indahnya…bila kamu tahu doa-doaku dikabulkan Tuhan…langkahku ringan…
Walau diiringi pandangan aneh para manusia disekitar kita
Indahnya…mesranya…bila kamu tahu Tuhan memanjakan dan menyanyangiku…
Walau banyak cemohan dari golongan manusia…tak membelokkan langkahku
Beberapa pihak manusia yang tak setuju…menguatkan langkahku
Ini bukan kehendakku…Tuhan hanya membukakan jalan bagiku…membuka nuansa ilmu-NYA
Dan takdir…bukan manusia penentunya
Tiada penyesalan setelah aku memilikinya…bukan menyesal…kebanggaan itu melekat selamanya
Seumur hidupku…melekat menjadi bagian dari jiwaku
Walau terkadang manusia lain bertanya…
Aku tetap bingung menjawabnya sampai detik ini…tapi hatiku tetap tersenyum lebar
Tuhan memang berhubungan sangat special bagi makhluk-NYA… yang diingini-NYA
Aku merindukan saat-saat indah seperti itu…walau aku berat menjalaninya
Indah sekali Tuhan…sangat indah


Selasa, 16 Februari 2010


GEDUNG TUAKuingat saat pertama kali diriku ini mulai mendua…dan mengartikan arti sebuah kebebasan
Kebebasanku menyelami alam dan ingin bersatu dengannya
Kubisikan dalam hati seandainya bukan hanya dua…aku ingin tiga…wajar bagiku…
Aku manusia normal…dunia diperuntukan tuhan hanya untuk manusia
Apa itu hujan…awan hitam cumulus…berat mencair di atmosfer bumi
Apa itu kemarau…cuacanya cerah tak berawan…anginnya panas
Di sisi yang lain mikrokontroler sebagai sensor panas mengukur bumi yang mendidih…demam
Bising industri…terfilter mikrofon akustik
Apa itu gugur…hatiku yang melonjak menguasainya…ya…tak akan ada gugur di bumi tropisku
Aku menang…? Tentu aku selalu menang dan bahagia
Gedung tua itu berusia 1920…proklamator Soekarno yang meresmikannya…di kota Kembang
Dan gedung di sisi satunya seusia denganku dengan lambang kota pahlawan Sura dan Baya
Ini kenanganku saat mendua…kedua gedung itu saksinya
Kubisikan kembali dalam hati…jangan sampai kedua gedung itu membongkar diriku yang terlanjur…
Mendua
Kunyalakan radio…bernyanyilah dengan hatiku…bernyanyilah
Lupakan dulu…cintaku…lupakan dulu…
Mungkin suatu saat nanti tuhan menakdirkan cinta kita…bersemi berbunga



PELABUHAN

Aku mengingat dan menuliskanmu dengan air mataku
Bila mendung datang bersamaan dengan kelamnya…pasti…
Gemuruh petir dan Guntur mengiringi
Air lautnya pasang…bulan yang purnama tertutupi mendung
Aku mengenangmu dengan air mataku
Hatiku bernyanyi tentang kapal kayu coklat di tepi pantainya
Tanpa layar putih…kapal kayu bertaut di dermaga kecil tak bernelayan
Aksen melayu sangat kental di logat bicaramu
Jangan bicarakan tentang rahasia…bisik gemintang yang juga tertutupi mendung
Tuhan menyimpan rapat rahasia itu di gelap malam
Esok pagi mentari menyapu bersih kegelapan semalam…
Simpankan pula dalam-dalam…direlung hatimu
Bila hari berganti…ingatlah cinta manusia tidak ada yang abadi selain cinta tuhan kepada manusia
Kenang aku yang larut dengan pantai itu…
Lengkap dengan purnama gemintang dan mendung…petir dan guntur