Kamis, 27 Oktober 2011

 

ILUSI

oleh Widhyanty Wiwid pada 28 Oktober 2011 jam 8:43

Jika aku sendiri di dunia ini
Kan ku puja kau bagai rembulan malam
Kan kusanjung kau bagai gemintang
Hingga siang menyapa kugantung harap pada matahari

Jika aku sendiri di dunia ini
Saat kupejam kan mata ingin kau selalu dalam ingatan
Kujaga kau dalam dalam tulus hati
Kusenandungkan lagu rindu sepanjang hari

Jika aku sendiri saja di dalam dunia ini
Biar dalam tidur malamku ku mimpikan dikau
Kurasakan hembusan bisikan angin mengantar rindumu
Hanya untuku

Jika memang ini sebuah illusi
Biarlah kau sajalah kenyataan itu

 

HALUSINASI

oleh Widhyanty Wiwid pada 08 Juni 2011 jam 22:00
Beginilah menjadi bayanganmu
Walau kata orang wajahmu tampan
Aku melukiskanmu hitam dan rata
Mengikutimu kemana saja

Menggodamu disaat terang benderang
Mempermainkanmu dibawah kakimu
Kadang memanjang dan kadang memendek
Wajah tampanmu kulukiskan sangat jelek ditanah

Meninggalkanmu dalam kegelapan
Membuatmu takut tak berteman dalam kelam
Beginilah enaknya menjadi bayanganmu
Tiba-tiba ada kembali saat terang benderang

Minggu, 11 September 2011

 

YANG

oleh Widhyanty Ali Samad pada 09 Januari 2011 jam 4:21
Bila aku menceritakan mu
Kamu tertutupi dengan perkataan yang lain
Foto masa lalu yang buram itu kusebut
Tersembunyi malu direlung-relung hatiku

Bila aku membicarakan Y
Maka X dan Z menyertai mu
Dan kepribadianmu tertutupi oleh keribadian teman-temanmu
Tak berlebihan kusebut mu
Potret diri yang kabur

Kamu mengatakan cinta
Kusambut pula dengan cinta
Namun dalan perjalanan panjangnya
Aku tidak mengenal mu
Kamu berpuisi cinta seperti igauan bayi yang tak bisa kupahami
Misteri cinta yang membekas sangat dalam

Mengarungi masa remaja bersama bayangan mu
Menatap cinta di usia dewasaku bersama bayangan semu mu
Meneriakkan nama mu yang jauh
Aku lelah tapi tetap tak menguak rasa penasaranku
Aku tidak mengerti

Jumat, 09 September 2011

 

SEPI

oleh Widhyanty Wiwid pada 27 Juli 2011 jam 8:10
Detak jantungku dapat kudengarkan sendiri
Dalam ruang yang lengang dan hampa
Suara napasku dapat kudengarkan dan dapat kuhitung
Dalam ruang senyap tak bersuara

Orang-orang hanya berlalu-lalang dalam benakku di masa lalu
Seandainya jarum jatuh dalam ruangan ini akan membuat keriuhan
Dan membuatku enggan melangkahkan kaki yang akan menambah kebisingan
Ruang yang hampa tanpa bunyi gema dengung

Kemana perginya mereka dalam lamunanku
Yang tak mungkin hadir bila dalam kesedihan
Yang tak akan menghapus air mata keluh kesah
Mendiamkan dalam kesendirian

Angin tak berarah tak menggerakkan pucuk-pucuk pohon
Namun menusuk kedalam pori-pori kulitku
Tak dapat dipersalahkan siapapun
Terjebak permainan hati

Berbicara pada pilu sendiri
Hanya diri yang merubah diri
Dan Tuhan penyelamat dari ruang yang hampa
Melalui siapa dan apa yang Tuhan pilihkan untukku

 

Kamis, 08 September 2011



MENITI PELANGI

oleh Widhyanty Wiwid pada 16 Agustus 2011 jam 22:56
“Kau tidak ada
Hingga mampu membirukan langit biru
Kau tidak ada
Hingga samudra dalam membiru,”...

“Kau sangat jauh
Hingga alam ini memberi udara kehidupan
Kau sangatlah jauh
Hingga air kehidupan ini 85% memenuhi tubuh,”...

Jika tak suka dengan kepalamu
Tak perlu kau penggal kepalamu
Jika kau tak mampu melihat indah
Tak perlu kau cukil matamu

Karena ketakutanmu memburumu
Karena warna hidup ini terlalu berwarna
Diantara kemarau yang panjang itu terguyur hujan
Dan warna pelangi mewarnai alam ini
 Karena tangga-tangga kehidupan ini berwarna
Karena warna itu tidak ada
Maka jangan kau cukil matamu
Atau jangan penggal kepalamu.... Bersyukurlah




MEMBUANG SEPI

oleh Widhyanty Wiwid pada 08 Agustus 2011 jam 10:25
Mari kita berlayar di tengah siang
Melawan arah angin
Melempar sauh sepi di tengah samudra biru
Meneriakkan pada mentari janganlah kelam membawa kembali sepi

Mari kita mendaki bukit di tengah siang
Menantang keras batuan pualam hitam
Menuju puncaknya sepi
Membangun benteng sunyi dan meninggalkannya disana menjadi candi

Mari kita merambah hutan di atas siang terik
Membakar api unggun seyap
Mungumpulkan kayu hitam pekat
Menumpuk kayu-kayu menjadi rumah panggung menyendiri di belantara sepi

Hari yang akan berlalu...sejak perpisahan itu
Akan kutanyakan padamu akan masa lalu
Apakah sepi mendatangimu kembali ?
Setelah sepi telah kita pecahkan
Dan sepi telah kita buang di tengah samudra...di atas bukit...di hutan belantara

 

 

Selasa, 06 September 2011

 

DALAM PELARIAN


Seandainya kau mengerti....
Bila cinta itu telah kumiliki....setelahnya....ingin kumiliki juga kesetian
Bila cinta lain datang menyapa...
Biarlah kesetian itu yang akan menjaganya

Kemanapun burung-burung terbang jauh...
Dia akan kembali kesarang tempat dia dilahirkan
Dan dia tak akan tersesat karenanya
Karena lagu yang angin nyanyikan tak pernah salah

Dalam kegelapan pun bintang gemintang memberi arah pulang
Segelap apapun dunia ini merenggut cahaya mentari
Tetap dalam persembunyiannya mentari ingin menyinari rembulan
Tak akan ada yang tersesat bila ingin kembali

Bila dirimu terkurung waktu....dan waktu tak akan melepaskan sesaatpun
Lihatlah langit biru terbentang...luas tak bertepi
Dalam penjara dirimu...jiwamu tetap bebas
Bila dirimu terbebaskan...jiwamu sama bebasnya

Dimana tempatmu berlari
Dimanapun...waktu yang dulu tak pernah menyambutmu kembali
Tapi waktu yang akan datang yang akan membuka pintunya untukmu