Selasa, 13 Oktober 2009


Pelangi Kehidupan

Aku mampu berteman dengan siapa saja
Gelora temanku…
Hidupnya penuh kesenangan…bernyanyi…bermusik…
Berambut warna-warni sesuai warna bajunya
Lazuardi temanku…
Hidupnya penuh semangat…bekerja keras…rapi…penuh perhitungan…
Segala tentang teknologi tak pernah ketinggalan
Melati temanku…
Hidupnya tenang…berkebun…melukis…
Waktu tak pernah mengejarnya…dan tak pernah mengejar waktu…selalu tersenyum
Tapi aku seperti siapa?
Cermin menatapku…sedikit malu…kubalas menatap cermin
Kubernyanyi lagu yang penuh keriangan…Gelora
Kubekerja keras dengan kualitas teknologi canggih…Lazuardi
Kumelukis diketenangan…berkebun menanam keharuman…Melati

Bunga Matahari Di Pesisir Pantai

Mimpi bukanlah hayalan…sayang
Mimpi juga bukan imajinasi
Dalam tidur…mimpi yang indah menghiburmu
Sampai terbangun masih teringat indahnya
Bila tangga-tangga kayu rumah yang kamu pijak berdenyit…
Bunyi denyitnya bagai mimpi untuk rumah kayu
Rumput-rumput yang mati dimusim dingin bermimpi berbunga kuning…
Esok musim semi akan dipenuhi rerumputan…padang tandus menjadi permadani alam
Ini bukan musim gugur…tanah yang tertutupi bunga-bunga menguning berjatuhan
Karena pucuknya bersemi kembali kuncup-kuncup baru…sama menguningnya
Kalau kamu menuai mimpi indah…pasti dalam sadarmu hidupmu lebih indah
Tidaklah sama dengan hayalan indah…terkadang kenyataannya tak seindah hayalannya
Jauh gunung biru…jauh samudra biru…jauh langit biru…menyatu…
Indah dipandang dikejauhan…tak seindah warna aslinya
Bukan seperti itu…mimpi indah
Mimpi indah…bukanlah hayalan…bukan juga imajinasi
Dan segeralah bangun… usai mimpimu indah…
Janganlah mimpimu menjadi mimpi dalam mimpi
Bunga matahari memerah dikaki langit…bagai mimpimu semalam

Rabu, 07 Oktober 2009


TERBIAS

Aku hidup diantara orang-orang gila…
Gila harta…gila kedudukan
Aku hidup dintara orang-orang ketakutan…
Ketakutan kehilangan emas permatanya…kehilangan titel tingkat kesarjanaan
Aku dikelilingi orang-orang yang kebingungan…
Bingung esok makan apa…bingung apakah esok masih bisa hidup gemerlap
Aku hanya mampu melihat…walau terkadang aku sedikit tertekan
Mereka…orang-orang itu menekan orang yang mampu mereka tekan
Keberadaanku yang mereka anggap lemah tak mampu bergerak bertindak
Namun jiwaku cukup kuat untuk tidak larut…
Dalam kegilaan mereka…
Dalam ketakutan mereka…
Dalam kebingungan mereka
Walau aku seolah terpuruk…pasrah
Dalam kesabaran aku memperoleh dua sekaligus…
Jiwaku yang kuat dalam kesabaran…
Nikmatnya kesabaran dan tuhan menjadi utuh milikku
Karena mereka…
Hanya memiliki…kegilaan…ketakutan…dan kebingungan.

Senin, 05 Oktober 2009


PANTAI SENJA

Lukisan-lukisan pantaimu
Lukisan-lukisan pantaiku
Biru…
Kedalaman sebuah rencana
Tentang masa depan dan keinginan
Tentang masa lalu dan kejadian
Berhenti di ujung takdir
Desir angin lautnya
Desir ombaknya
Menyapu segala angan…bukan suatu mimpi
Anginnya masih kurasa dan ombaknya menyentuh kakiku
Kamu menyentuh sukma terhalusku
Ketakutan-ketakutan akan kesendirian…sendu memerah
Matahari yang bersudut…membawaku pergi…berlari
Enggan mengganti birunya biru menjadi…senja memerah
Tapi pasti kembali…diri yang tlah siap menatap pantai ini…menatap senja
PANTAI SEBERANG

Arti sebuah rindu
Kubuang di tengah samudra biru
Dimakan ikan-ikan lautan
Terbawa arus bawah samudra
Tentang sebuah pantai dan sebuah pelarian
Pantai yang tak pernah senja
Mataku memandang diseberang lautan…
Pantai dimana…dulu aku berpijak…
Pantai tempatku berjanji berdua denganmu…untuk menatap senja
Buih-buih pantai menepi menghilang…dan tetes air mataku menyatu di pantai
Arti sebuah kerinduan
Tak ada tempat untuk bersandar perih…tak ada lagi impian
Hidup lebih nyata daripada kehidupan itu sendiri
Yang dirindu tak ikut berlari…kesebrang lautan
Menatapku jauh…diseberang lautan
Pantai ini menjanjikan bukan sekedar janji…bukan sekedar mimpi…
Bukan materi yang dikejar…tapi penemuan diri sendiri…yang tetap kubawa sendiri
Diriku yang ingin bebas sekaligus ingin terikat
Tapi tetap ingin pulang kembali
Mengartikan sebuah rindu dalam kesetian…
keabadian

Kamis, 01 Oktober 2009


IBU

Ini tentang ayahku
Datang dari pulau seberang
Meninggalkan berhektar-hektar tanah garapan
Memilih samudra untuk menanamkan biji rejeki
Ini tentang ayahku
Menyunting Rembulan di malam bulan purnama
Di tengah samudra
Mengarungi lautan lepas dengan mengendarai kapal nabi Nuh
Ingin menepi di dermaga cinta
Sedang Rembulan melahirkan ribuan gemintang
Menghiasi malam yang tak berawan hitam
Menjadi bunga matahari di siang benderang
Menatap matahari…
Ayahku…
Yang menjelma menjadi matahari di siang terang
Rembulan berkalung emas…duduk tenang di kursi emas…
Kekuningan berkilau dikegelapan
Rembulanku…
Menangis di sabit malam…tentang kilau emasnya yang memudar
Dan menakutkan gemintang tak berkedip indah
Rembulanku…
Sering mengeluhkan tentang hal-hal yang tidak penting
Namun…
Matahariku…hanya tersenyum
Sebab segala kilauan hanya kelihatan di mata bumi…
Tak akan kekal
Hingga aku ingin terlepas dari bumi…
Bersama angin
Dan tidak larut akan tipuan bumi
Yang menyebabkan Rembulanku menangis
AYAH

Seperti dongeng di alam impian
Ayahku datang dari pulau seberang lautan
Dari kota yang tak kukenal
Bercerita padaku tentang si Rembulan istrinya
Pernikahannya di pesisir samudra
Disaksikan dermaga dan kapal-kapal yang tertambat
Menjelma menjadi matahari di terang siang
Menyinari lembut Rembulan dalam peraduan didingin malam
Dongeng nabi Nuh idolanya
Pada Rembulan purnama…
Mengapa samudra bagai detak jantungnya…
Bergelora…bergelombang…
Karena nabi Nuh sang idola membangunkan kapal raksasa…
Yang akan mengarungi desir-desir darahnya
Ayahku memuja Rembulan di atas kapalnya
Di tengah samudra…
Angin malam bagian dari jiwanya…
Awan hitam jemari tangannya…
Badai lautan hanya permainannya
Ayahku…
Demi tuhanku…demi pemilik alam ini…
Aku takut mendengar cita-citanya
Demi tuhanku…aku ingin menjadi kekasih tuhan
Agar tuhan mengasihi ayahku
Demi tuhanku…kalau tuhan enggan menjadi kekasihku
Jadilah kekasih ayahku
Dan…
Cita-cita ayahku yang menakutkan itu…digantikan…
Kasih tuhanku
Samudra itu asal kedatangannya…kata ayahku
Di samudra itu tempat kembalinya…kata ayahku
Demi tuhan…itulah jihad…kata ayahku
Sambil memuja dan menatap Rembulan…
Melelapkannya dari kelelahan
Kalau aku mampu menjadi angin…
Aku ingin menjadi angin…
Hingga menyatu dengan jiwanya
Dan…
Merasakan senantiasa hidup
Harum jalan yang dilalui ayahku
Berjalan kembali ketempat asalnya…
Di tengah samudra
Inilah cita-cita ayahku yang dikabulkan tuhan

Sabtu, 19 September 2009



DIA

Kutemui dia dalam putus asa…
Hampa…sepi…tak bertepi
Dalam angan jiwaku…
Mencumbui mimpiku…
Merangkai puisi terindah…
Terukir diangin…ketidak mungkinan
Memaknakan dia tak pernah terwujud…
Aku mewujudkannya sendiri
Dalam untaian doa kupaksakan…
Aku menganggap diriku sutradara…
Dan dia tak pernah ada
Hingga…kubunuh dia yang tak pernah ada
Hingga…dia mati walau tak pernah hidup
Hingga kukubur dia
Hingga…aku menjadi orang lain
Saat aku menikahi orang yang tak pernah kucintai
Kuberlari…terus berlari menghindar
Dia yang tlah mati tak mungkin hidup kembali
Kukenakan topeng dia…
Dari kematian dia yang tak ada…tak dapat mati
Topeng dia tak pantas untuk kepalsuan cintaku
Aku kian berlarian tak berpijak di tanah
Kukuburkan diriku sendiri

kamu

Kukira ini cintaku…
Memang cinta
Hadir saat sifat kekanak-kanakanku masih tersisa…
tapi keadaan melihatku harus dewasa
tak ada yang percaya…akupun tidak percaya…aku hanya merasakannya aja
Malam itu…
Antara hayal…tapi aku sadar…menatap senyummu untukku…ini nyata
Larut dalam hayalanku…tapi aku tak ingin berhayal…menatap senyummu…
Mendengarkan alunan gitarmu…ini nyata…walau tak ada yang percaya…
Lagumu itu untukku…hanya untukku…tanyakan hatimu…cintamu hanya untukku…
Walau tak ada yang percaya
Pagi itu…
Aku mencarimu…disekitarku…disekelilingku…dijiwa murniku…
hanya memikirkan cinta tak ada yang lain…hanya cinta
kepingan kenangan malam itu tak pernah kulupa…sampai kapanpun…selamanya
tak ada yang percaya…kamupun mungkin tak percaya
siang itu…
hangat mentari membakar wajahku…memerah…entahlah…mungkin aku menangis
malam itu…pagi itu…siang itu
saat ini…aku masih utuh menyimpannya…bukan suatu sesalan…bukan suatu kesedihan…
suatu pengakuanku…aku merasakan cinta yang tak pernah kurasakan lagi…sampai saat ini
seharusnya aku mengatakannya…cinta disenyumanmu itu aku merasakannya juga
masa yang berganti tak dapat kulawan
setengah lupa…atau kebohonganku
menghayalkanmu yang semakin jauh terseret waktu…terulur-ulur jarak
mencerminkanmu di alam lain…menjadikanmu…menjadi dia
dia sangat sempurna…sangat indah…hingga tak pernah ada

aku

Bukan salah seorang ibu seakan menciptakanku
Bukan salah seorang ayah seolah menghidupkanku…
Dari ketidak adaanku…dari kehadiranku dikefanaan…dalam keabadian…
Kembali ke keabadian
Aku bukan tuhan walau membawa ruh tuhan…
Mengurungnya dalam ragaku yang berat…
Mudah kotor…diliputi debu bila tak disirami
Aku…yang tak pantas menyebut ragaku…’AKU’
Tapi aku terpaksa menyebut aku…
Memberi nama ragaku…’AKU’
Karena hadirnya…’KAMU’ dan ‘DIA’