Sabtu, 19 September 2009



DIA

Kutemui dia dalam putus asa…
Hampa…sepi…tak bertepi
Dalam angan jiwaku…
Mencumbui mimpiku…
Merangkai puisi terindah…
Terukir diangin…ketidak mungkinan
Memaknakan dia tak pernah terwujud…
Aku mewujudkannya sendiri
Dalam untaian doa kupaksakan…
Aku menganggap diriku sutradara…
Dan dia tak pernah ada
Hingga…kubunuh dia yang tak pernah ada
Hingga…dia mati walau tak pernah hidup
Hingga kukubur dia
Hingga…aku menjadi orang lain
Saat aku menikahi orang yang tak pernah kucintai
Kuberlari…terus berlari menghindar
Dia yang tlah mati tak mungkin hidup kembali
Kukenakan topeng dia…
Dari kematian dia yang tak ada…tak dapat mati
Topeng dia tak pantas untuk kepalsuan cintaku
Aku kian berlarian tak berpijak di tanah
Kukuburkan diriku sendiri

kamu

Kukira ini cintaku…
Memang cinta
Hadir saat sifat kekanak-kanakanku masih tersisa…
tapi keadaan melihatku harus dewasa
tak ada yang percaya…akupun tidak percaya…aku hanya merasakannya aja
Malam itu…
Antara hayal…tapi aku sadar…menatap senyummu untukku…ini nyata
Larut dalam hayalanku…tapi aku tak ingin berhayal…menatap senyummu…
Mendengarkan alunan gitarmu…ini nyata…walau tak ada yang percaya…
Lagumu itu untukku…hanya untukku…tanyakan hatimu…cintamu hanya untukku…
Walau tak ada yang percaya
Pagi itu…
Aku mencarimu…disekitarku…disekelilingku…dijiwa murniku…
hanya memikirkan cinta tak ada yang lain…hanya cinta
kepingan kenangan malam itu tak pernah kulupa…sampai kapanpun…selamanya
tak ada yang percaya…kamupun mungkin tak percaya
siang itu…
hangat mentari membakar wajahku…memerah…entahlah…mungkin aku menangis
malam itu…pagi itu…siang itu
saat ini…aku masih utuh menyimpannya…bukan suatu sesalan…bukan suatu kesedihan…
suatu pengakuanku…aku merasakan cinta yang tak pernah kurasakan lagi…sampai saat ini
seharusnya aku mengatakannya…cinta disenyumanmu itu aku merasakannya juga
masa yang berganti tak dapat kulawan
setengah lupa…atau kebohonganku
menghayalkanmu yang semakin jauh terseret waktu…terulur-ulur jarak
mencerminkanmu di alam lain…menjadikanmu…menjadi dia
dia sangat sempurna…sangat indah…hingga tak pernah ada

aku

Bukan salah seorang ibu seakan menciptakanku
Bukan salah seorang ayah seolah menghidupkanku…
Dari ketidak adaanku…dari kehadiranku dikefanaan…dalam keabadian…
Kembali ke keabadian
Aku bukan tuhan walau membawa ruh tuhan…
Mengurungnya dalam ragaku yang berat…
Mudah kotor…diliputi debu bila tak disirami
Aku…yang tak pantas menyebut ragaku…’AKU’
Tapi aku terpaksa menyebut aku…
Memberi nama ragaku…’AKU’
Karena hadirnya…’KAMU’ dan ‘DIA’